Senin, 13 Maret 2017

Bisnis Dan Etika Dalam Dunia Modern

Nama Kelompok :
Arrum Astri Saputri (11214683)
Febripiseska Rahma (14214123)
Iin Royati (15214118)
Nisrina Fauriza (17214978)
Putri Dwi Anggraeni (18214591)
Rahmah Hafidzah. P (18214782)
Ramadhanty Dwi. P (18214880)

Kelas : 3EA12

Mata kuliah  : Softskill Etika Bisnis


1. Pengertian Etika Bisnis
Kata “ etika “ dan “ etis “ tidak selalu dipakai dalam arti yang sama. Untuk menganalisis arti – arti etika adalah membedakan antara “ etika sebagai praksis “ dan “ etika sebagai refleksi. “ Etika sebagai praksis berarti : nilai – nilai dan norma – norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya dipraktekkan. Dapat juga dikatakan, etika sebagai praksis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Etika sebagai praksis sama artinya dengan moral atau moralitas : apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan, pantas dilakukan, dsb.
Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi, kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Etika sebagai refleksi menyoroti dan menilai baik buruknya perilaku seseorang.
Etika sebagai ilmu mempunyai tradisi yang sudah lama. Tradisi ini sama panjangnya dengan seluruh sejarah filsafat, karena etika dalam arti ini merupakan suatu cabang filsafat. Karena itu etika sebagai ilmu sering disebut juga filsafat moral atau etika filosofis.
Etika adalah cabang filsafat yang mempelajari baik buruknya manusia. Karena itu etika dalam arti ini disebut juga filsafat praktis.
Seperti etika terapan pada umumnya, etika bisnis dapat dijalankan pada tiga taraf : taraf makro, meso, dan mikro. Pada taraf makro, etika bisnis mempelajari aspek – aspek moral dari sistem ekonomi sebagai keseluruhan. Jadi, disini masalah – masalah etika disoroti pada skala besar. Pada taraf meso, etika bisnis menyelidiki masalah – masalah etis dibidang organisasi. Pada taraf mikro, yang difokuskan ialah individu dalam hubungan dengan ekonomi atau bisnis. Disini mempelajari tanggung jawab etis dari karyawan dan majikan, bawahan dan manajer, dll.
2.Tiga Aspek Pokok Dari Bisnis
Bisnis modern merupakan realitas yang amat kompleks. Banyak faktor yang turut mempengaruhi dan menentukan kegiatan bisnis. Antara lain ada faktor organisatoris – manajerial, ilmiah – teknologis, dan politik – sosial – kultural.Bisnis sebagai kegiatan sosial bisa disoroti sekurang –kurangnya dari tiga sudut pandang yang berbeda tetapi tidak selalu mungkin dipisahkan, yaitu sudut pandang ekonomi, hokum, dan etika
a.Sudut Pandang Ekonomis
Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar menukar, jual – beli, memproduksi – memasarkan, bekerja – memperkerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya dengan maksud memperoleh untung. Bisnis dapat dilogiskan sebagai kegiatan ekonomis yang kurang lebih terstruktur atau terorganisasi untuk menghasilkan keuntungan. Dalam bisnis modern, untung diekspresikan dalam bentuk uang. Tetapi hal itu tidak hakiki untuk bisnis. Bisnis berlangsung sebagai komunikasi sosial yang menguntungkan untuk kedua belah pihak yang melibatkan diri. Bisnis bukanlah karya amal. Bisnis justru tidak mempunyai sifat membantu orang dengan sepihak, tanpa mengharapkan suatu kembali.
Teori ekonomi menjelaskan bagaimana dalam sistem ekonomi pasar bebas para pengusaha dengan memanfaatkan sumber daya langka, menghasilkan barang dan jasa yang berguna bagi masyarakat. Efisiensi ekonomis artinya hasil maksimal akan dicapai dengan pengeluaran minimal. Efisiensi merupakan kata kunci dalam ekonomi modern.
Dipandang dari sudut ekonomis, good business atau bisnis yang baik adalah bisnis yang membawa banyak untung.
b. Sudut Pandang Moral
Dengan tetap mengakui peranan sentral dari sudut pandang ekonomis dalam bisnis, perlu segera ditambahkan adanya sudut pandang lain yang tidak boleh diabaikan, yaitu sudut pandang moral. Bisnis yang baik (good business) bukan saja bisnis yang menguntungkan. Bisnis yang baik adalah juga bisnis yang baik secara moral. Malah perlu ditekankan, arti moralnya merupakan salah satu arti penting bagi kata “ baik “. Perilaku yang baik merupakan perilaku yang sesuai dengan norma – norma moral, perilaku yang buruk bertentangan atau menyimpang dari norma – norma moral. Suatu perbuatan dapat dinilai baik menurut arti terdalam justru kala memenuhi standard etis tersebut.
c.Sudut Pandang Hukum
Tidak bisa diragukan lagi, bisnis terikat juga oleh hukum. “ Hukum Dagang “ atau “ Hukum Bisnis “merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Seperti etika pula, hukum merupakan sudut pandang normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Terdapat kaitan erat antara hukum dan etika. Dalam kekaisaran Roma sudah dikenal pepatah : “ Quid leges sine moribus? “, yang berarti “ Apa artinya undang – undang, kalau tidak disertai moralitas? “ Walaupun terdapat hubungan erat antara norma hukum dan norma etika, namun dua macam norma itu tidak sama. Disamping sudut pandang hukum, kita tetap membutuhkan sudut pandang moral. Untuk itu dapat dikemukakan beberapa alasan. Pertama, banyak hal bersifat tidak etis, sedangkan menurut hukum tidak dilarang. Tidak semuanya yang bersifat immoral adalah ilegal juga. Malah ada perilaku yang dari segi moral sangat penting, tetapi tidak diatur oleh hukum. Kedua, bahwa proses terbentuknya undang – undang atau peraturan hukum memakan waktu lama, sehingga masalah – masalah baru tidak bisa segera diatur secara hukum. Ketiga, bahwa hukum itu sering kali bisa disalahgunakan. Perumusan hukum tidak pernah sempurna sehingga orang yang beritikat buruk bisa memanfaatkan celah – celah dalam hukum. Alasan yang keempat cukup dekat dengan itu. Bisa terjadi, hukum memang bisa dirumuskan dengan baik, tetapi karena salah satu alasan sulit untuk dilaksanakan, misalnya, karena sulit dijalankan control yang efektif. Kelima, hukum kerap kali mempergunakan pengertian yang dalam konteks hukum itu sendiri tidak di definisikan dengan jelas dan sebenarnya diambil dari konteks moral.

Tolak Ukur Untuk Tiga Sudut Pandang Ini
a.       Hati Nurani
Suatu perbuatan adalah baik jika dilakukan sesuai hati nurani dan suatu perbuatan adalah buruk jika dilakukan bertentangan dengan hati nurani. Hati nurani adalah norma yang sering kali sulit dipakai dalam forum umum dan harus dilengkapi dengan norma – norma yang laen.
b.      Kaidah Emas
Cara lebih objektif untuk menilai baik buruknya perilaku moral adalah mengukurnya dengan kaidah emas yang berbunyi : “ hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana anda sendiri ingin diperlakukan. “Kaidah emas dapat dirumuskan dengan cara positif maupun negatif. Tadi diberikan perumusan positif. Bila dirumuskan secara negatif, kaidah emas berbunyi : “ janganlah melakukan terhadap orang lain, apa yang anda sendiri tidak ingin akan dilakukan terhadap diri anda. “
c.       Penilaian Umum
Cara ketiga dan barangkali yang paling ampuh untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah menyerahkannya kepada masyarakat umum untuk dinilai. Cara ini bisa disebut juga “ audit sosial. “ Sejauh masyarakat yang menilai masih terbatas, hasil penilaiannya mudah bersifat subjektif. Untuk mencapai suatu tahap objektif, perlu penilaian moral dijalankan dalam suatu forum yang seluas mungkin. Karena itu “ audit sosial “ menuntut adanya ketebukaan. Dapat disimpulkan, supaya patut disebut good business, tingkah laku bisnis harus memenuhi syarat – syarat dari semua sudut pandang tadi.
3.Perkembangan Etika Bisnis
Sepanjang sejarah, kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan etika. Sejak manusia terjun dari perniagaan, kegiatan ini tidak terlepas dari masalah etis. Aktivitas perniagaan selalu sudah berurusan dengan etika, artinya selalu harus mempertimbangkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Belum pernah dalam sejarah, etika bisnis mendapat perhatian begitu besar dan intensif seperti sekarang ini. Richard De George mengusulkan untuk membedakan antara etika dalam bisnis dan etika bisnis. Etika dalam bisnis berbicara tentang bisnis sebagai salah satu topik disamping sekian banyak topik lainnnya. Etika dalam bisnis belum merupakan suatu bidang khusus yang memiliki corak dan identitas tersendiri. Etika dalam bisnis mempunyai riwayat yang sudah panjang sekali, sedangkan umur etika bisnis masih muda sekali. Etika bisnis dalam arti khusus ini pertama kali timbul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Dengan memanfaatkan dan memperluas pemikiran De George ini kita dapat membedakan lima periode dalam perkembangan etika dalam bisnis menjadi etika bisnis, yaitu situasi dahulu, masa peralihan : tahun 1960an, etika bisnis lahir di Amerika Serikat tahun 1970an, etika bisnis meluas ke Eropa tahun 1980an, dan etika bisnis menjadi fenomena global tahun 1990an.
4.Profil Etika Bisnis Dewasa Ini
Praktis di segala kawasan dunia etika bisnis diberikan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. Menurut dugaan De George, tahun 1987, di Amerika Serikat saja diberikan lebih dari 500 kuliah etika bisnis, yang melibatkan lebih dari 40.000 mahasiswa. Banyak sekali publikasi diterbitkan tentang etika bisnis. Pada tahun 1987 De George menyebut paling sedikit 20 buku pegangan tentang etika bisnis dan 10 buku kasus di Amerika Serikat. Sekurang – kurangnya ada tiga seri buku tentang etika bisnis, yaitu The Ruffin Series In Business Attics, Issues In Business Attics, Sage Series In Business Attics. Sudah ada cukup banyak jurnal ilmiah khusus tentang etika bisnis. Dalam bahasa Jerman sudah tersedia kamus tentang etika bisnis : Lexikon der Wirtschaftsethik (Kamus Etika Ekonomi) Sekarang dapat ditemukan juga cukup banyak institut penelitian yang mendalami masalah etika bisnis. Sudah didirikan beberapa asosiasi dengan tujuan khusus memajukan etika bisnis. Di Amerika Serikat dan Eropa Barat disediakan beberapa program studi tingkat S2 dan S3 khusus di bidang etika bisnis.
5.Faktor Sejarah Dan Budaya Dalam Etika Bisnis
Dewasa ini orang akan merasa bangga, bila dapat menunjukkan kartu nama yang menyingkapkan identitasnya sebagai direktur atau manajer perusahaan yang ternama. Bisnis sebagai pekerjaan tidak dinilai kurang dari profesi lain, terutama kalau menghasilkan pendapatan tinggi. Jika kita mempelajari sejarah dunia barat, sikap positif ini tidak selamanya menandai pandangan terhadap bisnis. Sebaliknya, berabad – abad lamanya terdapat tendensi cukup kuat yang memandang bisnis atau perdagangan sebagai kegiatan yang tidak pantas bagi manusia beradab. Pedagang tidak mempunyai nama baik dalam masyarakat barat di masa lampau. Orang seperti pedagang jelas – jelas dicurigai kualitas etisnya. Sikap negatif ini berlangsung terus sampai zaman modern dan baru menghilang seluruhnya sekitar waktu industrialisasi.
  • Kebudayaan yunani kuno
Masyarakat yunani kuno pada umumnya berprasangka terhadap kegiatan dagang dan   kekayaan , warga Negara bebas harusnya mencurahkan perhatian dan waktunya untuk kesenian dan ilmu pengetahuan disampin tentu member sumbangsih terhadap negara dan kalau keadaan mendesak turut membela Negara . perdagangan sebaiknya diserahkan kepada orang asing atau pendatang Penolakan  terhadap pnadngan diatas dilakukan oleh aristoteles ( dalam karyanya politica )  ia menilai tidak etis setiap kegiatan menambah kekayaan  ia membedakan antara oikonomike tekhne dan khremastike tekhne
  • Agama Kristen
Dalam kitab suci agama Kristen terdapat cukup banyak teks yang bersifat kritis terhadap kekayaan dan uang . dalam perjanjian lama atau baru dalam alkitab banyak diminta agar orang kaya membuka hatinya untuk orang miskin untuk janda dan yatim piatu untuk mereka yang sial dalam menjalani kehidupan di dunia ini.


  • Agama islam
Jika kita memandang sejarah dalam agama islam tampak pandangan lebih positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis karena nabi muhammad saw pun seorang pedagan dan islam mulai di sebarluaskan melalui kegiatan perdagangan . dalam al uran terdapat peringatan terhadap penyalah gunaan kekayaan akan tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara halal.
  • Kebudayaan jawa
Dalam kebudayaan jawa terdapat struktur social yang membagi masytarakat ke dalam empat  golongan yaitu :golongan priyayi, pedagang pribumu, pedagang tionghoa , orang kecil Golongan  priyayi membentuk elite politik dan cultural yang menjahkan diri dari perdagangan . golongan kedua adaalah pedagang pribumi yang menjamin perputaran roda ekonomi bersama pedagang tionghoa
6.Kritik Atas Etika Bisnis
Etika bisnis sebagai usaha intelektual dan akademis yang baru pasti masih menderita banyak “ penyakit anak. ” Banyak hal yang perlu dikerjakan lagi dan banyak hal yang sudah dikerjakan perlu disempurnakan. Karena itu etika bisnis harus terbuka bagi kritik yang membangun. Dibawah ini akan dibahas beberapa contoh. Barangkali penjelasan ini bisa membantu mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang maksud etika bisnis sekarang ini.
a.Etika Bisnis Mendiskriminasi
Kritik pertama ini berasal dari Peter Drucker, ahli ternama dalam bidang teori manajemen. Inti keberatan Drucker ialah bahwa etika bisnis menjalankan semacam diskriminasi. Mengapa dunia bisnis harus dibebankan dengan etika? Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang tidak bersifat immoral atau ilegal kalau dilakukan orang biasa menjadi immoral atau ilegal kalau dilakukan oleh orang bisnis. Dan Drucker menyimpulkan bahwa etika bisnis itu menunjukkan adanya sisa – sisa dari permusuhan yang lama terhadap bisnis dan kegiatan ekonomis. Kritiknya berasal dari salah paham besar terhadap etika bisnis. Justru karena orang bisnis merupakan orang biasa, mereka membutuhkan etika. Adanya etika bisnis membuktikan bahwa bagi bisnis justru tidak ada pengecualian.
b.Etika Bisnis Itu Kontradiktif
Kritik ini ditemukan dalam kalangan populer yang cukup luas. Orang – orang ini menilai etika bisnis sebagai suatu usaha naïf. Dunia bisnis itu ibarat rimba raya dimana tidak ada tempat untuk etika. Etika dan bisnis bagaikan air dan minyak.
c.Etika Bisnis Tidak Praktis
Andrew Stark, seorang dosen manajemen di Universitas Toronto memberikan kritik yang cukup pedas. Menurut Stark, etika bisnis adalah “ too general, too theoretical, too impractical. “ Ia menilai, kesenjangan besar menganga antara etika bisnis akademis dan para professional di bidang manajemen. Dan ia memberi komentar : apa yang mereka hasilkan itu seringkali lebih mirip filsafat sosial yang muluk – muluk daripada advis etika yang berguna untuk para profesional. Karena itu kita mencoba untuk menanggapinya sebagai berikut. Pertama, Stark hanya memandang dan mengutip artikel dan buku ilmiah tentang etika bisnis. Kedua, Stark merupakan contoh tentang tendensi Amerika Utara untuk mengutamakan tahap mikro dalam etika bisnis. Ia hanya memperhatikan aspek – aspek etis dari keputusan yang harus diambil manajer dan kurang berminat untuk kerangka menyeluruh dimana pekerjaannya ditempatkan. Ketiga, sebagai ilmu, etika bisnis selalu bergerak pada taraf refleksi dan akibatnya pada taraf teoritis juga.
d.Etikawan Tidak Bisa Mengambil Alih Tanggung Jawab
Kritisi ini meragukan entah etika bisnis memiliki keahlian etis khusus, yang tidak dimiliki oleh para pebisnis dan manajer itu sendiri. Kritik tersebut merupakan salah paham. Etika bisnis sama sekali tidak bermaksud mengambil alih tanggung jawab etis dari para pebisnis. Etika bisnis tidak berpretensi memiliki keahlian yang sama sifatnya seperti banyak keahlian yang lain. Etika bisnis tidak bermaksud mengganti tempat dari orang yang mengambil keputusan moral. Etika bisnis bisa membantu untuk mengambil keputusan moral yang dapat dipertanggungjawabkan, tapi tidak berniat mengganti tempat dari para pelaku moral dalam perusahaan.












Sumber


Rabu, 01 April 2015

Management



Measuring Business Impact

        Talent management metrics link human capital investment to financial performance. According to management gurus Huselid, Becker and Beatty, there are three critical challenges to successful workforce measurement and management. First, there is “the perspective challenge”—meaning, do all managers really understand how workforce behaviors and capabilities drive strategy execution? Second, there is “the metrics challenge”—that is, are the right measures of workforce success identified (e.g., workforce culture, mindset, leadership, competencies and behaviors)? The third challenge is “the execution challenge”—specifically, in order to monitor progress and communicate the strategic intent of talent management initiatives, are managers motivated to use these data and do they have access and capability to do so? Talent management metrics are evolving. As organizations increasingly focus on talent management strategies, they seek ways to validate these initiatives and measure their business impact. Many firms are beginning to include talent management in their scorecards. For example, HSBC, a banking and financial services institution, uses the Balanced Scorecard™, with talent management listed under learning and growth. Scorecards provide a clear “line of sight” to organizational strategic goals by linking talent management to objectives and performance appraisals.
        Measures may include factors such as employee survey results, turnover (e.g., talent pools) and the number of employees on secondments (temporary assignments).
Companies also create their own measurements to fit their organizational cultures. Pfizer, for example, developed three primary talent management objectives—strength of leadership team and pipeline, robustness of talent management processes, and development of talent mindset and values—with corresponding drivers and metrics. One metric used to evaluate the robustness of talent management processes is the percentage of key position holders with individual development plans. Avon, a global cosmetics company, is an example of a
company that transformed its talent management system by shifting how it looks at talent and consequently how it utilizes technology.
        mode (e.g., a manager recommends an employee for a position) to a more objective and formal approach to talent management. This shift resulted in talent being assessed objectively through a leadership model to better determine suitability for various roles. To be able to identify where talent in the organization is located, a database now houses employee profiles, which can be routinely updated. As a result, the organization can make more data-driven decisions regarding talent. Increasingly, talent management technology to house and track talent management strategies is becoming available. Databases with all relevant data in one location can result in significant time savings for staffing, such as the ability to quickly identify talent for open positions. Organizations are recommended, however, to carefully evaluate which talent management technology program best fits their current and future needs. Some vendors include talent management solutions in their HR suites. Strategic talent management software may help manage workforce skills and capabilities (hourly, salaried and contingent), demographics, career planning, employee retention initiatives, workforce and succession planning, and performance and learning management. Although few vendors offer all of these options in one package, it is important to know if the software can be integrated with other systems. Opinions vary, however, on the value of technology systems regarding talent management.

Aktive
     1.      Talent management metrics link human capital investment
     2.      managers really understand how workforce behaviors
     3.      organizations increasingly focus on talent management strategies
     4.      Many firms are beginning to include talent management in their scorecards
     5.      talent management listed under learning and growth
     6.      looks at talent and consequently how it utilizes technology  
     7.      manager recommends an employee for a position
     8.      determine suitability for various roles
    9.      Databases with all relevant data in one location can result in significant time savings for staffing
   10.  software can be integrated with other systems
Passive
    1.      human capital investment connected by talent management metrics
    2.      workforce behaviors really understood by managers
    3.      management strategies focused by organizations
    4.      talent management in their scorecards input by firms
    5.      learning and grouth lised by talent management
    6.      how it utilizes technology seen by talent and consequently
    7.      employee for a position recommended by manager
    8.      for various roles suitability by manager determined
   9.      significant time savings for staffing can result by Databases with all relevant data in one location
  10.  other systems integreted by software

Kamis, 19 Maret 2015

All about Gunadarma University




ALL ABOUT GUNADARMAA UNIVERSITY

Hello, my name is Febripiseska Rahma. i’m a female University student in Gunadarma University. I chosed Economic  Faculty, that is Management departmen. In gunadarma university i think the facility is a good enough. Like the parking area, OHP, and the class so nice. Sometimes  the air conditioner inactive. In fact the cost from each semester is expensive.

System in gunadarma is good, because the tecnology is so simple. The student can access many information when they need an information in gunadarma. We have many system, there are library, career information, seminar information, v-class, studentsite and sap. From sap we can see the matter of the subject, so we know what will we learn today in class or to quicken our subject. In studentsite we can see the academic, grades, task, and many more. 

I have many friends in here, with many kind character. They are any diligent student, smart, funny and many more. Then lecturer in Gunadarma University is many kind character too. They are any nice lecturer, obvious, funny , discipline, to bore and not clear too. I feel happy met many good people like them. But any bad student too in here, like bare from class, lazy, and not doing the assignment from lecturer and many more. In fact, that is to determine will success or not. Even, will make their parents feel sad and disappointed.

Then, the circle of my friends are too many and happy. And then Gunadarma have so many students. So, I can know many new people. Even, I ever met my friend from Senior High School who School in Gunadarma University too. The Campus is near from house result of renting. Like me and some of my friends who far from our family. I feel I have a new family here. Because, they are nice, to satisfy, and like to help each other.